Bridge dan Pengembangan Kepribadian Bagian III



BRIDGE sebagai stimulator otak kanan


Otak kanan berfungsi dalam perkembangan Emotional Quotient (EQ). Misalnya sosialisasi, komunikasi, interaksi dengan manusia lain serta pengendalian emosi. Pada otak kanan ini pula terletak kemampuan intuitif, kemampuan merasakan, memadukan, dan ekspresi tubuh, seperti menyanyi, menari, melukis dan segala jenis kegiatan kreatif lainnya.





Orang yang dominan otak kirinya, pandai melakukan analisa dan proses pemikiran logis, namun kurang pandai dalam hubungan sosial. Mereka juga cenderung memiliki telinga kanan lebih tajam, kaki dan tangan kanannya juga lebih tajam daripada tangan dan kaki kirinya. Sedangkan orang yang dominan otak kanannya bisa jadi adalah orang yang pandai bergaul, namun mengalami kesulitan dalam belajar hal-hal yang teknis.

Karakteristik yang terkait dengan otak kanan adalah intuitif, acak, subjektif, holistik (secara menyeluruh) dan sintesis. Dengan karakteristik ini, orang yang dominan dengan otak kanan cenderung lebih kreatif ketimbang orang yang dominan otak kiri. Kenyataan bahwa orang dengan dominansi otak kanan lebih cenderung menyukai aspek visual, sehingga orang-orang tersebut jarang menanggapi masalah secara rinci. Individu dengan dominansi otak kanan cenderung lebih kreatif dan intuitif, baik di bidang seni yang kreatif, maupun di bidang-bidang lainnya. Individu tersebut memiliki waktu yang tepat untuk memprioritaskan hal-hal yang sulit, karena sebagian besar keputusan yang dibuat pada saat terakhir.

Bridge atau lebih tepatnya contract bridge adalah olahraga otak yang sarat dengan aplikasi pengembangan otak manusia. Hal-hal yang logis dan visual memang cenderung dominan. Logika ada di bagian otak kiri, sementara visualisasi ada di otak kanan. Kondisi visual yang mengandung intuisi, acak, subyektif, holistik dan sintesis kadangkala tak bisa diterima logika alias bertentangan. Intuisi misalnya, terasah dari pengalaman hidup. Seorang pemain bridge yang berpengalaman luas akan mengetahui arah permainan teman maupun lawan dari pola visual yang terekam dalam proses penawaran.

Ketika menghadapi distribusi ekstrem, ada lebih dari dua orang memegang jumlah lembar warna tertentu sangat panjang (lebih dari 7 lembar), pemain yang berpengalaman luas akan melakukan cara yang tak lazim pada opening lead agar terhindar dari kemungkinan “dijepit” atau kena squeeze. Jika gagal pada kesempatan pertama, kemungkinan akan diulangi pada kesempatan berikutnya cukup terbuka. Sehingga, pemain yang dijepit akan berbuat seperti kerbau dicucuk hidungnya.  Mengikuti kemauan “sang pawang”  yaitu pemain yang melakukan teknik squeezing.

Kecerdasan emosional seorang pemain bridge sangat penting untuk selalu dipelihara. Pada kasus tertentu, perang urat syaraf terjadi dalam competitive bidding. Saling berebut posisi untuk memenangkan kontrak. Pasangan yang kurang berpengalaman biasanya terjebak dalam situasi ini dengan membuat keputusan yang merugikan pasangannya karena melakukan tawaran yang terlalu tinggi (over bidding ) dan gagal memenuhi kontrak. Akhirnya terkena denda yang nilainya bisa maksimal.  Atau sebaliknya dengan under bidding, membuat kontrak di bawah normal dan memberikan nilai secara gratis kepada lawan.  

Postingan populer dari blog ini

Bridge Itu Olahraga Otak Yang Asyik Lho - Pengenalan

Sistem Penawaran Presisi

Pandangan Islam Tentang dan Manfaat Olahraga Bridge